Kamis, 07 Oktober 2010

Tersenyumlah




Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami adalah Allah” kemudian meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepadanya dengan mengatakan: “Janganlah enkau takut dan janganlah engkau bersedih; dan bergembiralah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan oleh Allah kepadamu (QS.Fushilat:30)

Karena kita muslim
Tak perlulah kita sedihkan apa yang telah terjadi
Karena kita muslim
Tak perlulah kita cemaskan apa yang belum terjadi

Apalah yang harus disedihkan ?
Apalah yang harus di takutkan ?
Jikanya semua perkara adalah baik

Jikanya perkara itu menyenagkan, maka bersyukurlah
Jikanya perkara itu tak di senangi, maka bersabarlah
Bukankah pada keduanya terdapat kebaikan yang nyata

Kenapalah harus cemas dan sedih ?
Kenapalah harus cemas, jika ujian ini pertanda Cintanya Allah
Kenapalah harus takut, jika ujian ini adalah cara Allah meninggikan derajat kita di sisiNya
Kenapalah harus khawatir, jika ujian ini adalah penghapus dosa
Kenapalah harus bersedih, jika dengan ujian, kita layak mendapatkan surga

Karena kita muslim
Tersenyumlah

Tentang Waktu


Waktu yang telah berlalu bukan lagi milik kita. Sudah berakhir dan tak akan kembali lagi. Masa-masa yang berlalu juga tinggal kenangan dan akan menjadi sejarah bagi manusia yang hidup dimasa akan dating. Segala yang kita lakukan dimasa lampau mungkin akan terlupa, dan hilang begitu saja dari ingatan. Meski sebenarnya ia tidak akan hilanh dari cacatan raqiibul attiid. Tinggal bagaimanakah aktivitas yang kita lakukan di masa lalu, apakah kebaikan atau keburukan. Apabila kebaikan yang kita lakukan, maka beruntunglah diri kita. Namun jika sebaliknya, maka alangkah celakanya kita. Syukurnya kita masih punya waktu sekarang, waktu yang lagi kita miliki ini. Sehingg kita masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan bertobat atas apa yang telah kita lakukan di masa lalu. Bilanya masih sedikit kebaikan yang kita buat maka masih terbuka kesempatan untuk menambah jumlah amal shalih kita.

Namun demikian, ingatlah kembali bahwa sekarang adalah masa lalu bagi masa depan. Apa yang kita lalkukan di masa sekarang akan menjadi masa lalu untuk masa akan datang. Oleh karena itu sudah sepatutnya kita memanfaatkan waktu yang ada sekarang ini dengan beragam amal shalih. Agar cacatan amal kita terisi penuh hanya dengan kebaikan, bukan dengan keburukan

Senin, 04 Oktober 2010

Membuka Mata Hati



Suatu hari sang Nabi melewati seorang sahabat yang sedang membaca Alquran. Sampailah ia pada ayat yang artinya: Jika langit terbelah dan memerah seperti kulit merah ( Ar-Rahman: 37). Seketikapun tubuhnya gemetar dan ia menangis seraya bergumam, “Duh, apa yang bakal terjadi dengan diriku sekiranya langit ini terbelah? Sungguh malang nasibku!” Mendengar itu,sang Nabi pun berkata, “Tangisanmu menyebabkan para malaikat pun turut menangis.”

Dikisah pula, Abdullah bin Rawahah ra suatu ketika tampak menangis dengan sedihnya. Melihat itu, istrinya pun turut menangis hingga Abdullah bertanya, “Mengapa engkau menangis?” Istrinya menjawab, “Melihatmu menangis, itulah yang menyebabkan aku menangis.” Abdullah bin Rawahah ra lalu bertutur, “Saat aku membayangkan bahwa aku bakal menyeberangi shirĂ¢th, aku tidak tahu apakah aku akan selamat atau tidak. Itulah yang membuatku menangis.” (al-Kandahlawi)

Subhanallah. kisah-kisah ini begitu jelas menggambarkan rasa takut para sahabat dan generasi terdahulu terhadap azab Allah SWT. Maka wajarlah jika mereka adalah orang-orang yang selalu bersungguh-sungguh dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT juga dalam menjauhi kemaksiatan kepada-Nya karena begitu dahsyatnya rasa takut mereka kepada Tuhannya. Benarlah ujaran Fudhail bin Iyadh, “Rasa takut kepada Allah SWT selamanya akan membawa kebaikan.”

Lalu bagaimana dengan generasi Muslim saat ini? Sayang, sayang seribu sayang, rasa takut itu sepertinya begitu sulit tumbuh pada kebanyakan kita. Malah yang terjadi sering sebaliknya. Kita sering lupa dan seolah-olah entah sengaja ataupun tidak, telah menjadi orang yang paling berani menentang azab Allah. Mulai dari keperibadian kita yang tidak islami, hingga menerapkan hukum-hukum kufur dan mencampakkan hukum-hukum Allah. Dan kinipun, korupsi, kolusi dan suap-menyuap tak lagi dipandang sebagai dosa. Riba, judi, dan berlaku curang dalam bisnis tak lagi dianggap tindakan salah. Mengobral aurat, bergaul bebas, selingkuh dan zina tak lagi dipandang sebagai perbuatan laknat. Astagfirullah. Beginikah wajah generasi muslim sekarang. Seandainya ada setitik saja pada diri kita rasa takut kepada Allah, tentu kita akan selalu berusaha meninggalkan semua perbuatan terkutuk tersebut.

Jika sudah demikian, sepertinya kita perlu kembali merenungkan firman Allah SWT dalam sebuah hadis qudsi, “Aku tidak akan mengumpulkan dua ketakutan pada seorang hamba. Jika ia tidak takut kepada-Ku di dunia maka Aku akan memberinya rasa takut di akhirat. Jika ia takut kepada-ku di dunia maka Aku akan menghilangkan rasa takut pada dirinya di akhirat.”
Lantas mengapa kebanyakan generasi Muslim saat ini begitu hampa dari rasa takut kepada Allah SWT? Tidak lain, sebagaimana dinyatakan Allah SWT sendiri, “Sesungguhnya bukanlah mata-mata lahiriah mereka yang buta, tetapi yang buta ialah mata-mata hati mereka yang ada di dalam dada.” (Al-Hajj: 46).

Ya, kebanyakan mata hati kita memang sudah dibutakan oleh gemerlap dunia yang sesungguhnya bersifat sementara dan cenderung menipu. Akibatnya, kita tak sanggup lagi melihat pahala dan dosa, serta tak berdaya lagi menatap nikmat surga dan azab neraka yang sesungguhnya kekal dan abadi serta benar-benar 'nyata'.
Saudaraku, marilah kita kembali membuka mata hati