
Suatu hari sang Nabi melewati seorang sahabat yang sedang membaca Alquran. Sampailah ia pada ayat yang artinya: Jika langit terbelah dan memerah seperti kulit merah ( Ar-Rahman: 37). Seketikapun tubuhnya gemetar dan ia menangis seraya bergumam, “Duh, apa yang bakal terjadi dengan diriku sekiranya langit ini terbelah? Sungguh malang nasibku!” Mendengar itu,sang Nabi pun berkata, “Tangisanmu menyebabkan para malaikat pun turut menangis.”
Dikisah pula, Abdullah bin Rawahah ra suatu ketika tampak menangis dengan sedihnya. Melihat itu, istrinya pun turut menangis hingga Abdullah bertanya, “Mengapa engkau menangis?” Istrinya menjawab, “Melihatmu menangis, itulah yang menyebabkan aku menangis.” Abdullah bin Rawahah ra lalu bertutur, “Saat aku membayangkan bahwa aku bakal menyeberangi shirĂ¢th, aku tidak tahu apakah aku akan selamat atau tidak. Itulah yang membuatku menangis.” (al-Kandahlawi)
Subhanallah. kisah-kisah ini begitu jelas menggambarkan rasa takut para sahabat dan generasi terdahulu terhadap azab Allah SWT. Maka wajarlah jika mereka adalah orang-orang yang selalu bersungguh-sungguh dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT juga dalam menjauhi kemaksiatan kepada-Nya karena begitu dahsyatnya rasa takut mereka kepada Tuhannya. Benarlah ujaran Fudhail bin Iyadh, “Rasa takut kepada Allah SWT selamanya akan membawa kebaikan.”
Lalu bagaimana dengan generasi Muslim saat ini? Sayang, sayang seribu sayang, rasa takut itu sepertinya begitu sulit tumbuh pada kebanyakan kita. Malah yang terjadi sering sebaliknya. Kita sering lupa dan seolah-olah entah sengaja ataupun tidak, telah menjadi orang yang paling berani menentang azab Allah. Mulai dari keperibadian kita yang tidak islami, hingga menerapkan hukum-hukum kufur dan mencampakkan hukum-hukum Allah. Dan kinipun, korupsi, kolusi dan suap-menyuap tak lagi dipandang sebagai dosa. Riba, judi, dan berlaku curang dalam bisnis tak lagi dianggap tindakan salah. Mengobral aurat, bergaul bebas, selingkuh dan zina tak lagi dipandang sebagai perbuatan laknat. Astagfirullah. Beginikah wajah generasi muslim sekarang. Seandainya ada setitik saja pada diri kita rasa takut kepada Allah, tentu kita akan selalu berusaha meninggalkan semua perbuatan terkutuk tersebut.
Jika sudah demikian, sepertinya kita perlu kembali merenungkan firman Allah SWT dalam sebuah hadis qudsi, “Aku tidak akan mengumpulkan dua ketakutan pada seorang hamba. Jika ia tidak takut kepada-Ku di dunia maka Aku akan memberinya rasa takut di akhirat. Jika ia takut kepada-ku di dunia maka Aku akan menghilangkan rasa takut pada dirinya di akhirat.”
Lantas mengapa kebanyakan generasi Muslim saat ini begitu hampa dari rasa takut kepada Allah SWT? Tidak lain, sebagaimana dinyatakan Allah SWT sendiri, “Sesungguhnya bukanlah mata-mata lahiriah mereka yang buta, tetapi yang buta ialah mata-mata hati mereka yang ada di dalam dada.” (Al-Hajj: 46).
Ya, kebanyakan mata hati kita memang sudah dibutakan oleh gemerlap dunia yang sesungguhnya bersifat sementara dan cenderung menipu. Akibatnya, kita tak sanggup lagi melihat pahala dan dosa, serta tak berdaya lagi menatap nikmat surga dan azab neraka yang sesungguhnya kekal dan abadi serta benar-benar 'nyata'.
Saudaraku, marilah kita kembali membuka mata hati