Kamis, 04 November 2010

Karena Aku Punya Malu



“… Jika kamu sudah tak punyai rasa malu, maka lakukan saja apa yang kau mau “ (HR. Al Bukhari)

Kalimat Rasulullah ini, bernada ketidaksukaan yang amat sangat kepada mereka yang tidak lagi memiliki rasa malu. Bukanlah pemberian ijin, bukan berarti dipersilahkan, dan yang pastu bukanlah sebuah persetujuan apalagi dukungan. Inilah perkataan yang dipertajam, agar ai mengoyak tabir keinsyafan. Inilah kalimat yang diperuncing agar ia masuk ke labirin nurani terdalam. Agar ia dapat menggores kesadaran akan sebuah rasa.

“ Adalah Nabi Shallallahu’Alaihi Wa Sallam lebih malu daripada seorang gadis dalam pingitan.” (HR. Al Bikhari)

Kalau ada nikmat Allah yang dikaruniakan sebagai mahkota kehormatan manusia, pastilah malu adalah salah satu nya. Kalaulah ada perisai yang dianugrahka untuk melawan syeithan dan nafsu, maka malu adalah bahan dari bagian terluarnya. Jika ada pakaian yang menutup ‘aurat lahir dan bathin, maka jadilah malu sebagai benangnya.
Sebagaimana malu adalah mahkota Yusuf yang membuatnya agung di hadapan tipu daya Imraatul ‘Aziiz Zulaikha. Adalah malu menjadi perisai Abu Bakar Al Miski yang memakai baju besi berlumur kotoran manusia ketika seorang wanita kaya dan cantik mengajaknya berzina. Jadilah malu sebagai pakaian Rasulullah hingga beliau lebih terjaga oleh rasa itu daripada gadis dalam pingitan.
Maka belajarlah menjadi pemalu dalam masalah kesucian diri. Karena memang benar, didalam hati yang selalu merasa diawasi Allah akan muncul rasa malu yang sangat kepada Nya. Ah, sungguh betapa dekatnya rasa malu dengan aroma Surga.

Selasa, 02 November 2010

Bergeraklah, tulang-tulang perkasa




“Allah Yang Menciptakan kalian dari keadaan lemah. Kemudian menjadikan sebuah kelemahan itu kekuatan, lalu menjadikan sesudah kuat itu lemah kembali dan beruban…” (Ar-rum 54)

Betapa siklus yang Allah tetapkan itu berjalan sempurna dalam diri kita. Periode kekuatan itu kini dating menghampiri kita, memberikan potensi dahsyat yang dibatasi waktu. Kalau tak cerdas mengelolanya menjadi gerag produktif, tentu kita tak akan merasakan nikmatny akelincahan usia muda. Kita akan tetap menjadi bayi lemah yang akan langsung pikun dan beruban, tanpa bisa merasakan nikmatnya kekuatan.
Kekuatan memang tersembunyi, hanya gerak yang akan memunculkan kepermukaan. Tapi apa makna gerak bagi masing-masing kita?
Gerak itu tanda kehidupan. Yang mati itu tidak bergerak, dan shalat tanpa gerak pun bernama shalat jenazah. Dengan gerak pula ikan laut terselamatkan dari resapan kadar garam yang tinggi. Dan hanya gerak yang bisa menyelamatkan air dari pembusukan, genangan menjijikan dan penyakit bersarang.
Cukuplah Pergerakan yang kemudian akan meninggikan kehormatan diri, mengangkat martabat dan derajat dimata Allah, RasulNya dan orang-orang beriman.

“…Beramallah, maka Allah akan melihat karya kalian, juga rasulNya dan orang-orang beriman…” (At-taubah 105)

Cinta Yang Membius




“sesungguhnya orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebutkan nama Allah, maka bergetarlah hatinya. Dan apabila dibacakan ayat-ayatNya kepada mereka, maka bertambah kuatlah imannya…” (al-anfal 2)


Cinta adalah fitrah manusia. Kehadirannya akan merubah hidup seseorang. Cinta menjadikan pengecut sebagai pemberani, yang bakhil jadi penderma, dan si bodoh jadi pintar.

Selalu ada rasa senang, jika yang dilanda cinta dapat bertemu dengan kekasihinya. Tak terbantah, semangat pun begitu bergelora walau hanya mendengar nama kekasinya di sebut-sebut. Denyut jantung bertambah cepat dan tubuhpun mulai bergetar. Begitulah cinta menggambarkan keadaan.

Lalu pernahkah kita terfikir, seberapa bergetar hati kita kala mendengar suara azan ?

Apakah tubuh segera bergerak memenuhi panggilanNya ?

Ataukah kita merasa gelisah dan cemas dengan su’ul khatimah ?

Bukankah sebagian dari tanda cinta adalah hadirnya gairah ketika kekasihnya disebut, dan kegelisahan yang tampak ketika ia tak dapat bertemu kekasih. Dan bertambahlah imannya karena cinta ini adalah cinta yang membius.


“… hanya kepada Allah lah mereka bertawakal(Al-anfal 2)

Kamis, 07 Oktober 2010

Tersenyumlah




Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami adalah Allah” kemudian meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepadanya dengan mengatakan: “Janganlah enkau takut dan janganlah engkau bersedih; dan bergembiralah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan oleh Allah kepadamu (QS.Fushilat:30)

Karena kita muslim
Tak perlulah kita sedihkan apa yang telah terjadi
Karena kita muslim
Tak perlulah kita cemaskan apa yang belum terjadi

Apalah yang harus disedihkan ?
Apalah yang harus di takutkan ?
Jikanya semua perkara adalah baik

Jikanya perkara itu menyenagkan, maka bersyukurlah
Jikanya perkara itu tak di senangi, maka bersabarlah
Bukankah pada keduanya terdapat kebaikan yang nyata

Kenapalah harus cemas dan sedih ?
Kenapalah harus cemas, jika ujian ini pertanda Cintanya Allah
Kenapalah harus takut, jika ujian ini adalah cara Allah meninggikan derajat kita di sisiNya
Kenapalah harus khawatir, jika ujian ini adalah penghapus dosa
Kenapalah harus bersedih, jika dengan ujian, kita layak mendapatkan surga

Karena kita muslim
Tersenyumlah

Tentang Waktu


Waktu yang telah berlalu bukan lagi milik kita. Sudah berakhir dan tak akan kembali lagi. Masa-masa yang berlalu juga tinggal kenangan dan akan menjadi sejarah bagi manusia yang hidup dimasa akan dating. Segala yang kita lakukan dimasa lampau mungkin akan terlupa, dan hilang begitu saja dari ingatan. Meski sebenarnya ia tidak akan hilanh dari cacatan raqiibul attiid. Tinggal bagaimanakah aktivitas yang kita lakukan di masa lalu, apakah kebaikan atau keburukan. Apabila kebaikan yang kita lakukan, maka beruntunglah diri kita. Namun jika sebaliknya, maka alangkah celakanya kita. Syukurnya kita masih punya waktu sekarang, waktu yang lagi kita miliki ini. Sehingg kita masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan bertobat atas apa yang telah kita lakukan di masa lalu. Bilanya masih sedikit kebaikan yang kita buat maka masih terbuka kesempatan untuk menambah jumlah amal shalih kita.

Namun demikian, ingatlah kembali bahwa sekarang adalah masa lalu bagi masa depan. Apa yang kita lalkukan di masa sekarang akan menjadi masa lalu untuk masa akan datang. Oleh karena itu sudah sepatutnya kita memanfaatkan waktu yang ada sekarang ini dengan beragam amal shalih. Agar cacatan amal kita terisi penuh hanya dengan kebaikan, bukan dengan keburukan

Senin, 04 Oktober 2010

Membuka Mata Hati



Suatu hari sang Nabi melewati seorang sahabat yang sedang membaca Alquran. Sampailah ia pada ayat yang artinya: Jika langit terbelah dan memerah seperti kulit merah ( Ar-Rahman: 37). Seketikapun tubuhnya gemetar dan ia menangis seraya bergumam, “Duh, apa yang bakal terjadi dengan diriku sekiranya langit ini terbelah? Sungguh malang nasibku!” Mendengar itu,sang Nabi pun berkata, “Tangisanmu menyebabkan para malaikat pun turut menangis.”

Dikisah pula, Abdullah bin Rawahah ra suatu ketika tampak menangis dengan sedihnya. Melihat itu, istrinya pun turut menangis hingga Abdullah bertanya, “Mengapa engkau menangis?” Istrinya menjawab, “Melihatmu menangis, itulah yang menyebabkan aku menangis.” Abdullah bin Rawahah ra lalu bertutur, “Saat aku membayangkan bahwa aku bakal menyeberangi shirĂ¢th, aku tidak tahu apakah aku akan selamat atau tidak. Itulah yang membuatku menangis.” (al-Kandahlawi)

Subhanallah. kisah-kisah ini begitu jelas menggambarkan rasa takut para sahabat dan generasi terdahulu terhadap azab Allah SWT. Maka wajarlah jika mereka adalah orang-orang yang selalu bersungguh-sungguh dalam menjalankan ketaatan kepada Allah SWT juga dalam menjauhi kemaksiatan kepada-Nya karena begitu dahsyatnya rasa takut mereka kepada Tuhannya. Benarlah ujaran Fudhail bin Iyadh, “Rasa takut kepada Allah SWT selamanya akan membawa kebaikan.”

Lalu bagaimana dengan generasi Muslim saat ini? Sayang, sayang seribu sayang, rasa takut itu sepertinya begitu sulit tumbuh pada kebanyakan kita. Malah yang terjadi sering sebaliknya. Kita sering lupa dan seolah-olah entah sengaja ataupun tidak, telah menjadi orang yang paling berani menentang azab Allah. Mulai dari keperibadian kita yang tidak islami, hingga menerapkan hukum-hukum kufur dan mencampakkan hukum-hukum Allah. Dan kinipun, korupsi, kolusi dan suap-menyuap tak lagi dipandang sebagai dosa. Riba, judi, dan berlaku curang dalam bisnis tak lagi dianggap tindakan salah. Mengobral aurat, bergaul bebas, selingkuh dan zina tak lagi dipandang sebagai perbuatan laknat. Astagfirullah. Beginikah wajah generasi muslim sekarang. Seandainya ada setitik saja pada diri kita rasa takut kepada Allah, tentu kita akan selalu berusaha meninggalkan semua perbuatan terkutuk tersebut.

Jika sudah demikian, sepertinya kita perlu kembali merenungkan firman Allah SWT dalam sebuah hadis qudsi, “Aku tidak akan mengumpulkan dua ketakutan pada seorang hamba. Jika ia tidak takut kepada-Ku di dunia maka Aku akan memberinya rasa takut di akhirat. Jika ia takut kepada-ku di dunia maka Aku akan menghilangkan rasa takut pada dirinya di akhirat.”
Lantas mengapa kebanyakan generasi Muslim saat ini begitu hampa dari rasa takut kepada Allah SWT? Tidak lain, sebagaimana dinyatakan Allah SWT sendiri, “Sesungguhnya bukanlah mata-mata lahiriah mereka yang buta, tetapi yang buta ialah mata-mata hati mereka yang ada di dalam dada.” (Al-Hajj: 46).

Ya, kebanyakan mata hati kita memang sudah dibutakan oleh gemerlap dunia yang sesungguhnya bersifat sementara dan cenderung menipu. Akibatnya, kita tak sanggup lagi melihat pahala dan dosa, serta tak berdaya lagi menatap nikmat surga dan azab neraka yang sesungguhnya kekal dan abadi serta benar-benar 'nyata'.
Saudaraku, marilah kita kembali membuka mata hati

Kamis, 23 September 2010

Pesan Singkat


Terima kasih ingin ku ucap
Terima kasih yang tak terhingga
Terimaksih sedalam kasih dan sayang
Terimakasih karena aku pernah mengenalmu
Terimakasih karena kau telah melukis sekeping cerita dalam hidupku yang hanya sekali ini
Terimakasih karena malalui engkau, pernah kurasakan saat-saat dimana aku begitu bahagia
hidup penuh mimpi dan harapan, sangant bergairah, begitu dinamis
Terimakasih telah menjadi denyut nadi semangatku

Terimakasih
Tetaplah seperti ini

Selasa, 21 September 2010

sang pemenang


Terkadang hidup memang terasa pahit
Terkadang lanhkah kita semakin terjepit
Tetapi Tuhan takkan mungkin berpaling
Membiarkan diriku dirimu terbanting
Kita diciptakan untuk mencoba menhadi pejuang
Yang takkan terbuang

Kita terlahir sebagai pemenang
Itu yang harus kita pertahankan
Ayo teruslah kita berjuang
Agar semua bisa tergenggam

Jika suatu hari kau terjatuh
Genggam tanganku jangan merapuh
Jalan terjal ini kan tertempuh
Hingga habis tetes peluh
Dan nafas kita

[gesit apriyanto;hari kau terjatuh]

Sabtu, 18 September 2010

Surat Cinta Untukmu Sahabatku


Dear all,

Betapa besarnya nilai uang kertas senilai Rp.100.000
apabila dibawa ke masjid untuk disumbangkan; tetapi
betapa kecilnya kalau dibawa ke Mall untuk
dibelanjakan!

Betapa lamanya melayani Allah selama lima belas menit
namun betapa singkatnya kalau kita melihat film.
betapa sulitnya untuk mencari kata-kata ketika berdoa
(spontan) namun betapa mudahnya kalau mengobrol atau
bergosip dengan pacar / teman tanpa harus berpikir panjang-panjang.

Betapa asyiknya apabila pertandingan bola
diperpanjang waktunya ekstra namun kita mengeluh
ketika khotbah di masjid sedikit lebih lama daripada biasa.

Betapa sulitnya untuk membaca satu lembar Al-qur'an tapi
betapa mudahnya membaca 100 halaman dari novel yang laris.

Betapa getolnya orang untuk duduk di depan dalam
pertandingan atau konser namun lebih senang berada di
shaf paling belakang ketika berada di Masjid.

Betapa Mudahnya membuat 40 tahun dosa demi memuaskan
nafsu birahi semata, namun alangkah sulitnya ketika
menahan nafsu selama 30 hari ketika berpuasa.

Betapa sulitnya untuk menyediakan waktu untuk sholat 5
waktu; namun betapa mudahnya menyesuaikan waktu dalam
sekejap pada saat terakhir untuk event yang menyenangkan.

Betapa sulitnya untuk mempelajari arti yang
terkandung di dalam al qur'an; namun betapa mudahnya
untuk mengulang-ulangi gosip yang sama kepada orang lain.

Betapa mudahnya kita mempercayai apa yang dikatakan
oleh koran namun betapa kita meragukan apa yang
dikatakan oleh Kitab Suci AlQuran.

Betapa Takutnya kita apabila dipanggil Boss dan
cepat-cepat menghadapnya namun betapa kita berani dan
lamanya untuk menghadapNya saat kumandang azan menggema.

Engkau tertawa ...? ataukah engkau berfikir-fikir ...?
Sebarkanlah surat cinta ini dan bersyukurlah kepada Allah
Yang Maha Baik, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang.

Selasa, 08 Juni 2010

Semoga Kalian Tak Pernah Bosan !

Aku tak akan pernah lupa dengan kata-katanya. Dialah abangku yang dalam setahun ini kujadikan panutan di tempat tinggal ku.
Jangan pernah bosan… karena mereka tak akan pernah bosan…
Begitulah kata-katanya menyentuh telingaku malam ini. Setelah kemaren beberapa kali kami mengadakan rapat. Hari ini kami kembali mengadakan rapat dengan beberapa orang yang sama, ditempat yang sama. Terhitung 4 kali sudah kami mengadakan pertemuan dalam minggu ini, kali ini adalah yang kelima.
“Teman-temanku yang dirahmati Allah, semoga kita tidak pernah bosan dengan apa yang kita lakukan hari ini. Kita disini bukan untuk apa-apa selain karena keinginan dan kesadaran kita untuk menunaikan tugas dari-Nya. Menyusun langkah demi lankah untuk memudahkan gerak kita. Agar diantara kita tidak ada lagi ketidak pahaman tentang untuk apa kita ada disini.
Teman-temanku yang berbahagia. Kita disini bukan lagi untuk bersenag-senang, kita disini bukan lagi untuk berleha-leha, tapi kita disini ada untuk mereka…
Mereka yang tak pernah bosan…
Setiap hari mereka tertawa lebar dengan baju ketatnya, yang selalu menghiasi kendaraannya dengan boneka-boneka “Barbie”nya, Yang selalu mengisi dan memenuhi tiap pojok-pojok taman kampus. Dimana-mana terdengar suara berisik mereka membicarakan sesuatu yang tak bermutu, alinan lagu-lagu yang mengumbar gairah, hentakan drum berdentum diwaktu azan bergema, dan bau-bau tubuh mereka yang tak tentu lagi baunya bau apa karena terlalu banyak parfum yang mereka pakai”.
Saudaraku yang kucintai karena Allah, kita disini ada bukan untuk memusuhi mereka, tetapi mengajak mereka untuk berbenah diri, menuju keridhoan Allah. Mengajak mereka untuk kembali”.
Begitulah kata abangku meyakinkan kami, selalu.

Bingung

Bingung
Itulah kata-kata yang terakhir ku dengar darinya. Seseorang yang selalu bingung dalam segala hal, bingung dengan cara belajar dikelas, bingung dalam cara bergaul dengan perempuan, bingung dengan cara berbusana, bahkan dalam pertemuan sehari-haripun dia selalu diam. “ aku Bingung” itulah kata yang sering kau ucapkan teman.
Tak ada yang menarik dengan teman ku yang satu ini. Dibandingkan dengan teman-teman ku yang lain, yang selalu hyperaktif dalam mencontek, gaulabiz, dan selalu tak kehabisan bahan omongan, ini itu selalu saja dijadikan topic pembicaraan, walau tak mutu. Orang yang satu terlihat aneh dimataku. Mungkin karena kebiasaan aneh itulah, hampir semua teman-temannya yang juga teman-temanku mengucilkannya.
Suatu hari kudekati temanku ini, lalu bertanya, “kenapa lo gak mau gabung dengan mereka?”
“Aku bingung” itulah kata yang keluar dimulutnya yang terlalu berat untuk dibuka.
“Aku bingung harus ikut membicarakan artis yang mana lagi yang belum mereka bicarakan hari ini.”